jump to navigation

Locus of Control dalam Menyikapi Sukses dan Gagal January 22, 2007

Posted by AGUSTINUS SETIONO in Uncategorized.
trackback

Oleh: S. Brotosumarto

Locus of Control (LoC) adalah sikap seseorang dalam mengartikan sebab
dari suatu peristiwa. Seseorang dengan Internal LoC adalah mereka yang
merasa bertanggung jawab atas kejadian-kejadian tertentu. Hasil adalah
dampak langsung dari tindakannya. Sedangkan, orang dengan External LoC
adalah mereka yang sering menyalahkan (atau bersyukur) atas
keberuntungan, petaka, nasib, keadaan dirinya, atau kekuatan-kekuatan
lain di luar kekuasaannya.

Tiap orang menilai kekuatan-kekuatan yang menghasilkan keberhasilan
(sukses) dan kegagalan dengan sikap berbeda-beda. Seorang pelamar kerja
yang sudah berkali-kali mengikuti tes dan tidak pernah lolos seleksi,
misalnya, bisa saja menyalahkan dirinya karena kekurangannya. Ia mungkin
berpikir, ah saya sarjana payah. Pendek kata, ia menilai kegagalannya
berasal dari dalam dirinya (Faktor Internal – FI).

Suatu hari, tesnya berhasil. Ia mungkin saja menilai bahwa
keberhasilannya bukanlah disebabkan FI-nya, seperti kecerdasan atau
kemampuan berbahasa. Tapi, karena keberuntungan. Ah, demikian pikirnya,
barangkali karena tidak banyak yang melamar. Jadi, ia menyikapi
kegagalan dan keberhasilan dirinya dengan cara berbeda. Ia menerima
kegagalannya karena FI tapi keberhasilannya karena FE (Faktor
Eksternal). Kesimpulannya, orang bisa punya LoC yang berbeda, baik untuk
sukses maupun gagal.

Selain dikotomi internal dan eksternal, penting untuk memahami keadaan
stabil dan labil. Sekali lagi contohnya orang yang menjalani tes.
Alkisah, nilainya jatuh, karena pada saat tes ia kelelahan dan
konsentrasinya buyar karena ibunya masuk UGD. Jika ia tes lagi dalam
keadaan bugar dan ibunya baik-baik saja, ia akan bisa mencetak nilai tes
yang bagus. Keadaan ia sedang lelah kita sebut FI sedang labil; dan
fakta bahwa ibunya di UGD kita sebut sebagai keadaan (FE) sedang labil,
yang sifatnya sementara.

Saat menghadapi kegagalan, kita dianjurkan untuk menyikapinya sebagai
keadaan FI sedang labil. Juga FE yang kurang mendukung. Contoh, seorang
atlet hari itu prestasinya memble karena sedang pilek dan kakinya
keseleo (FI sedang labil), ditambah lagi cuaca habis hujan, becek dan
licin (FE sedang labil). Dengan demikian harga diri dan rasa percaya
dirinya terlindung dengan baik. Pada lain kesempatan, di mana FI stabil
dan FE seperti biasanya, ia akan berprestasi.

Yang terjadi sering terbalik. Ada yang menganggap keberhasilannya karena
dukungan FE, misalnya karena ekonomi bagus, dll. Dan, ketika ia
menghadapi kegagalan, ia malahan menuduh FI sebagai biangnya, misalnya
ia merasa ia goblok. Jika kegagalan itu terjadi beruntun, lama kelamaan
harga diri dan rasa percaya dirinya akan ambyar sehingga ia terpuruk.

Sikap yang benar adalah menempatkan FI sebagai faktor yang membuat Anda
meraih sukses. Jika Anda naik gaji atau dapat promosi, katakan pada diri
sendiri bahwa Anda memperolehnya karena FI yang Anda miliki: kecerdasan,
karisma, atau pun ketekunan. Bukan karena FE: anugerah dari bos. Anda
layak mendapatkan keberhasilan itu karena jerih payah Anda sendiri,
karena memang Anda punya kelebihan. Jika Anda tidak kena PHK, itu bukan
karena Anda beruntung atau dikasihani bos, tapi memang Anda tahan
banting. Jika Anda tiba-tiba mendapat peluang, itu bukan karena
beruntung, tapi karena Anda sudah mejeng memposisikan diri untuk
meng-embat peluang itu.

Saat menghadapi keberhasilan, sangat bijak untuk tidak membesar-besarkan
FE, tapi jika Anda sedang dirundung kegagalan, lebih bijak menyimak FI
dan FE lebih saksama. Yang disimak apa? Stabilitas. Bisa jadi FI kita
sedang labil misalnya sakit. Atau, karena FE yang sedang labil, misalnya
ada huru hara. Dengan demikian bagian FI kita yang rawan, yakni harga
diri dan rasa percaya diri, akan terlindung.

Labil bermakna bahwa faktor-faktor itu bersifat sementara. Jika
faktor-faktor itu sudah stabil, kita akan mudah bangkit lagi dan tidak
gagal. Kita bisa mengerahkan FI yang lebih berdaya guna. Dengan demikian
kita mampu menghadapi kegagalan bertubi-tubi tanpa menjadi terpuruk
dalam lembah keputusasaan. Kita mampu memahami bahwa kegagalan yang kita
derita sifatnya sementara. Dalam kata-kata puitis ‘mendung tak selalu
kelabu’, ‘ badai pasti berlalu ‘, ‘esok penuh harapan’. Cengeng dan
klise ? Mungkin. Tapi, percayalah ini pernyataan ilmiah yang didukung
dengan riset.

Comments»

1. Rina - January 24, 2007

Isi tulisan Anda bagus dan mengena serta mudah dipahami. Viva, Gus!

2. deni - September 8, 2007

mantap buat jdul skripsi

3. Nuzsep A, S.Psi., M.Si - September 10, 2007

Simpel, padat berkualitas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: